Yukina Hawmie, 18, Indonesia
[#31] My Days on Ramadhan…
Senin, 20 September 2010 @ 6:09 AM
Finally, aku mengubah tampilan blogku juga. Perubahan suasana. Aku tetap bertahan dengan warna gelap walau kali ini aku sedikit ‘luluh’ untuk memberikan warna ceria. Sedikit sentuhan pink. Oh, aku kira temanku kembali akan menertawakanku setelah layout tumblrku yang juga sedikit berwarna pink.

Masih ada yang salah dibagian link komentar. Masalahnya, aku tidak terlalu mengerti tentang coding seperti itu. Apalagi template klasik seperti ini. Aku bingung kenapa link komentarnya ‘longsor’ ke postingan dibawahnya. Masa tagnya belum kututup? *ngintip kode layout* Layout ini sendiri aku mencarinya di blogskins.com dan mengedit beberapa bagian. Yeah, tidak semua. Hanya mengubah total warna layout (tadinya berwarna biru), menambahkan link komentar, menghilangkan beberapa bagian dan sedikit-sedikit-lainnya.




Aku kira aku akan memaki temanku jika barang yang kutitipkan padanya tidak diambilnya dirumahku kemarin. Aku mengorbankan tugas kimiaku dan tidur setengah 3 pagi demi membuat berbagai barang untuk bazar di SMK 1. Untungnya, kantung plastik tempat aku menaruh barangku sudah ‘lenyap’. Aku batal memaki. Padahal kurasa aku sudah dapat beberapa kata makian baru yang keren *plak*

Sekolah sudah dimulai tanggal 14 kemarin dan baru aktif belajar tanggal 15. Hanya satu hal yang aku khawatirkan : PR-ku. Oke, selama liburan sekitar 2 minggu tidak banyak yang aku lakukan selain berada di depan laptop atau berkutat dengan benang jahit. Yang namanya liburan, ya liburan. Apa hubungannya sama PR? Seharusnya liburan itu berarti istirahat dari kejamnya dunia sekolah. Kenapa kami harus diberi PR?

Maaf. Emosi remaja labil.

Aku bahkan tidak berusaha mengejar ketertinggalan pelajaran MIPAku selama seminggu. Yep, ketinggalan pelajaran MIPA selama seminggu. Mendadak aku merasa menjadi siswa terbego dikelas karena tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan guru-guru MIPAku didepan kelas.

Jadi, Agustus kemarin (ini akan panjang, euh) tanggal 18-24 aku mengikuti English camp di Kampus STIT di Tanah Periuk sono. Apa tepat disebut English camp ya? Soalnya itu perkampungan dua bahasa dan kebetulan aku mengikuti yang berbahasa Inggris. Terimakasih untuk yang berbahasa Arab. Walau aku sudah mempelajarinya selama setahun lebih, yang kuingat hanya kalimat ‘min aina anta/anti’. Yah, I’m totally failed at it.

Perkampungannya… awalnya cukup mengerikan *lebay* aku kira kami tidur hanya beralaskan lantai keramik tanpa—minimal—karpet/hambal, eh? Tapi untungnya saat sore sebelum buka puasa, datanglah beberapa panitia yang membawa karpet. Oh, itu benar-benar penyelamat. ‘kengerian’ lainnya, makan. Aku kira gizi kami sama sekali tidak terpenuhi disana. Yang terpenting disana sepertinya adalah ‘mempertahankan hidup’ alih-alih memenuhi gizi kami yang notabene adalah pelajar SMA yang memerlukan asupan untuk menghadapi kejamnya dunia SMA *dihajar*

Hari pertama… Kedua… Aku masih diam. Aku masih belum terbiasa. Dan otakku terus-menerus melancarkan protes karena dengan mengikuti English camp itu artinya aku ketinggalan banyak hal. Aku tidak ikut ulangan fisika, presentasi biologi, sejarah, tugas kesenian dan sederet yang lain yang pasti akan dituntut ketika aku masuk. Lanjut, hari ketiga, aku baru mulai ‘beraksi’. Mana aku tahan kalau ada debat. Walau kemampuan bahasa inggris seperti orang yang tidak mengerti cara berbicara, ngoceh tetap lanjut. Ih, ngomong-ngomong SMAN 1 Tanah Grogot, SMA Muhammadiyah dan MAN Al-Ihsan aja yang mewakili Tanah Grogot. Entah sekolah yang lain kemana. Mungkin mereka berpikir, kalau mengirimkan wakil kesana selama seminggu, maka muridnya akan ketinggalan pelajaran selama seminggu.

Lama-lama aku menikmati English camp-nya. Awalnya memang memaki dan ada keinginan untuk pulang. Uang 100 ribu yang diberikan sekolah mudah saja dikembalikan. Bukan bermaksud menyombong. Apalagi dengan godaan teman-teman yang merindukan (benarkah) melalu twitter. “Pulanglah nak. Kami merindukanmu”. Oh astaga. Aku jadi beneran mau pulang. Tapi akhirnya aku bertahan. Biarlah. Tak apa. Hanya satu yang aku sesali sedikit, pelajaran yang diberikan itu-itu saja. Yah, memang apalagi yang bisa dipelajari? Aku jadi merasa sombong padahal bahasa Inggrisku sama sekali tidak bagus ==”

Hari terakhir, mendadak saja aku disuruh mewakili peserta English camp untuk menyampaikan kesan dan pesan saat penututupan. An to the jrit. Disuruh pakai bahasa Inggris lagi. Aku menolak, tentu saja. Didebat mungkin saja aku menjadi orang paling cerewet, tapi aku bukan orang yang pintar menyampaikan hal-hal seperti itu. Alhasil aku hanya berbicara sekitar satu menit and used Bahasa. Sedangkan perwakilan dari bahasa Arab? Dia mengoceh seperti burung beo. Walau apa yang disampaikannya hanya tipikal kesan-pesan kekanak-kanakan semacam “saya senang berada di perkampungan ini”.

Cool. Ternyata jika aku memaki akan menyakitkan sekali.

Tanggal 25 seharusnya aku masuk. Tapi… aku kan anak baik. Jadi aku bolos. Dan apa yang dikatakan teman-temanku saat aku tidak masuk lagi? “Yuni masih dispensasi bu. Ikut English camp”. Astaga mereka polos sekali. Izinku kan cuma seminggu *digampar* tapi ngomong-ngomong aku rugi banget bolos hari itu. Ketinggalan Kimia sama Matematika. Lagi. Dan saat Kamis masuk, aku bertemu pelajaran
yang kurang berharga dimataku. Kecuali TIK. Aku akan merasa sangat menyesal kalau ketinggalan. Tapi aku penasaran apa guruku satu ini masuk mengajar saat tanggal 25 Agustus?

Kalau dihitung, dari total waktu belajar aktif selama 11 hari di bulan Ramadhan, aku hanya masuk selama 4 hari. Dan aku merasa sekolah saat itu tidak berharga lagi karena aku sudah ketinggalan terlalu banyak pelajaran. Lebih baik aku dirumah,duduk manis didepan meja belajar sambil berusaha mengejar ketertinggalan.

Cerita masih bersambung *dasar* Sebenarnya mau lanjut. Tapi aku kasihan. Terlalu panjang juga tidak baik. Jika sudah menulis aku memang tidak tahan untuk tidak menulis berlembar-lembar.

Label: ,

3 comments: leave a comment