Yukina Hawmie, 18, Indonesia
[#47] LCC MPR 2011, UWOWOWOWOW - 1
Senin, 07 Maret 2011 @ 9:52 PM
Aku kembali.
Dan rasanya aku agak kehilangan kendali beberapa hari yang lalu. Postingan yang cukup telat mengingat kejadiannya sudah sekitar seminggu yang lalu.

Oh astaga. Ini sama sekali bukan cerita sedih. Tapi mengapa dari tulisanku, sepertinya ini akan menjadi sesuatu yang cukup sedih. Mengapa? Mengapa? Ayo kita mulai ceritanya. Cerita sekaligus sebagai kenangan abadi :)

Jumat, 25 Februari 2011
Aku bangun sekitar pukul empat pagi dan langsung mandi. Setelah itu aku langsung sarapan(?) dan bersiap-siap. Setengah enam, aku sudah siap. Dan PANIK. DEG DEGAN. Padahal ini hanya perjalanan biasa. Tapi mengingat aku pergi ke Samarinda dalam rangka untuk berlomba, INI JAUH LEBIH MENEGANGKAN. Sekitar pukul 7, kami semua sudah berkumpul di depan kantor Diknas.


Bukannya langsung berangkat, kami mampir dulu di tempat tambal ban dan menunggu sekitar setengah jam. Pukul 8, baru kami benar-benar berangkat. ASTAGA AKU DEGDEGAN.

Kami sampai di Panajam sekitar pukul 10. Ketika sampai didaerah kantor pemda PPU, aku, Diy dan Erma berteriak “LAUUUUT!” bersama-sama. Rasanya lucu sekali. Kami seperti tidak pernah melihat laut, hahaha. Dan untunglah, ketika sampai di pelabuhan dan membeli tiket, kami tidak antri dan langsung masuk feri. Saatnya menyebrangi selat Balikpapan~


Aku selalu menyukai ketika di atas feri. Walaupun memakan waktu jauh lebih lama dibanding naik speedboat atau klotok, tapi aku jauh lebih menikmati suasana diatas feri. Angin sepoi-sepoinya… duh, andai bisa punya rumah di pinggir laut. Pasti asyik sekali.

Aku juga menikmati ketika melewati daerah tahura Bukit Soeharto. Berdasarkan pengamatanku *krik* jalan raya yang melintasi tahura Bukit Soeharto semua berada dipuncak pegunungan. Makanya daerah itu dingin. Dan pohon-pohonnya di kanan kiri jalan juga cantik sekali. Sayang aku tidak memotretnya.


Sekitar pukul 4.30 sore, kami sampai di Samarinda. Kami langsung menuju Hotel Swiss-belhotel Borneo dimana kami akan menginap. Sayangnya, kami tidak langsung masuk kamar. Aku kira, kita cukup mendatangi resepsionis dan melapor bahwa perwakilan Paser sudah datang dan kami sudah bisa check in. Tapi ternyata masih ada hal-hal-hal lain yang harus diurus. Yang membuat panik, Pak Jon salah membawa stempel. Yang dibawa beliau adalah stempel untuk pesantren kilat, bukan stempel sekolah kami. Dan… KAMI JUGA GA BAWA FOTO!


Pukul 5, akhirnya kami bisa masuk kekamar masing-masing. Dan ini menyenangkan. Hanya dua orang setiap kamar.

Tapi ini menyebalkan, setelah kami datang, kami langsung mandi, shalat dan berganti pakaian. Karena setelah makan malam kami langsung diangkut ke kantor Diknas provinsi untuk mengikuti pembekalan dari pihak penyelenggara (alias pihak MPR-RI). Belum sempat kami beristirahat, dan langsung pembekalan. Benar-benar indah. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi ketika pembelakalan malam itu. Tapi sebelum berangkat, kami sempat memotret diri masing-masing menggunakan kameraku. Foto tersebut langsung dibawa ke tempat cuci cetak foto. Dan jadilah foto 3x4 dadakan kami ==

Satu yang membuatku panik. Untuk yelyel, ternyata ada syarat tertentu. Dan itu membuatku memutar otak bagaimana membuat yelyel sesuai persyaratan. Sekitar pukul 10, kami semua kembali ke hotel. Dan aku sudah mewanti-wanti semua teman agar datang kekamarku setelah ganti baju dan shalat untuk melatih yelyel. Hampir tengah malam, kami memutuskan untuk menyudahi semua karena sudah lelah. Aku sendiri bangun jam 4 pagi dan belum sama sekali tertidur. Padahal kami diperjalanan sekitar 10 jam. Bayangkan betapa lelahnya…

Sabtu, 26 Februari 2011
Halo, aku 17 tahun 1 bulan lho Kami bangun… TELAT. Sudah lewat subuh, kami baru bangun. Tapi aku tidak panik. Karena baru akan diangkut ke kantor Diknas LAGI sekitar pukul 8. Jadi aku bisa makan dengan tenang.

Pembekalannya MEMBOSANKAN. Bagaimana rasanya ketika materi UUD 1945 dan TAP MPR sudah menjadi makananmu sehari-hari selama dua bulan dan kembali diulang di pembekalan. Tapi memang kami mendapat pencerahan. Soal tingkat provinsi jauh lebih rumit dibanding soal kabupaten. Yup, pencerahan sedikit.

Pembekalan selesai sore hari setelah ashar. Setelah itu kami menarik undian. Dan kami mendapat nomor undian 4. Yang artinya akan bertanding di babak penyisihan giliran kedua. Kami melawan SMA 2 Samarinda dan SMA 1 Tarakan.

Setelah makan malam, kami semua berkumpul dilantai 9. Di kamar Dedek Deo dan Mas Tahta. Sekalian kamar Diy dan Diah karena kamar mereka terhubung. Kami kembali belajar, mengingat materi dan melatih yelyel yang baru. Yang dibuat hanya dalam waktu 1,5 jam kemarin malam.


Hihi. Kami dapat uang dari penyelenggara sebesar 200ribu. Lumayan lho.

Berhubung aku sakit kepala (aku tidak bisa jika tidak tidur siang, malamnya pasti langsung ‘ambruk’), akhirnya aku meminta izin untuk tidur. Sekitar satu jam, aku tidur ‘ayam’. Tapi itu lumayan, sudah mengurangi sakit kepalaku. Setelah itu aku langsung kembali mengikuti acara belajar kilat malam itu. Sekitar pukul 10, kami kembali kekamar masing-masing dan mempersiapkan energi masing-masing untuk perlombaan besok….

Label:

1 comments: leave a comment