Rasanya seperti kehilangan kemampuan menulis. Atau setidaknya kemampuan untuk merangkai kata-kata.
Jadi, rapor dibagikan Sabtu, 18 Juni kemarin. Alhamdulillah, naik kelas walau nilai hancur-hancuran banget. Aku tidak tahu harus senang atau tidak menerima peringkat 5. Tapi… ada perasaan kecewa. Peringkat lima = beasiswa lepas, padahal aku sudah mendapatkannya selama dua tahun berturut-turut. My money *disepak*
That doesn’t matter at all. Sekarang aku resmi menjadi pelajar ditahun terakhir di SMA. Yes, kelas 3. Atau kelas XII. Rasanya baru beberapa bulan lalu aku masuk SMA, masih polos dan culun sebagai anak kelas X, tidak tahunya sekarang aku berada ditahun terakhir. Lagi.
Kelas XI kuhabiskan dengan ‘ugal-ugalan’. Rasanya menjadi anak ditahun tengah (maksudku, seperti kelas VIII SMP atau kelas XI SMA) selalu kuhabiskan dengan bermain-main. Yang namanya dikejar tugas (sampai dipanggil guru karena belum ngumpul tugas), ‘melarikan diri’ dari tugas atau pelajaran yang tidak disukai, telat masuk kelas, ogah ulangan susulan, tidur dikelas, sampai bolos (lol) sudah kulakukan semua. Tapi mungkin aku tidak sampai tahap parah. Er. Oke. Aku tidak tahu apakah aku parah atau tidak.
Dan aku mendapatkan konsekuensi dari semua itu. Nilaiku terjun bebas. Angka 6 menari-nari di mata pelajaran Kimia. Nilai fisika-matematikaku hanya sampai angka 70-an (Fisika 79, sedikiiiit lagi sampai 80. Pelit amat *diinjak*). Dan satu yang aku sadari : nanti itu berpengaruh saat aku mau mendaftar kuliah ga ya? Nasibku sebagai calon maba arsitek ini bagaimanaaaaaa
Tahu kan NEWT? Nastily Exhausting Wizarding Tests—Ujian Sihir Yang Luar Biasa Melelahkan. Nah, anggap saja aku berada ditahun ini. Dan kebetulan sekali, aku akan mulai menghadapinya disaat umurku 17 tahun. Pas sekali.
Oh, great. Kenapa aku bahagia sekali.
Aku sempat khawatir aku tidak akan naik kelas mengingat aku menjalani kehidupanku sebagai pelajar kelas XI dengan tidak serius. Saat pergi ke Samarinda untuk lomba (ceritanya akan dipost di entri berbeda…), aku dan Erma sampai meminta tolong pada Bu Nani agar bisa menelepon guru-guru mata pelajaran eksak, khususnya Kimia. Aku tidak memiliki kekhawatiran khusus pada mapel Matematika – Fisika, tapi aku sangat-terlalu-khawatir dengan nilai Kimiaku. Selama setahun penuh, aku selalu remedi. Menyedihkan sekali. Kimiaku kelas X dan kelas XI benar-benar jauh berbeda. Saat kelas X, aku mengerjakan Kimia dengan merdeka, tapi entah kenapa di kelas XI ini ketertarikanku dengan Kimia jatuh drastis. Yang lebih menarik sekarang adalah Matematika – Fisika. Oh, aku cinta dua mapel itu.
Kelas 3 SMA, artinya Ujian Nasional dan persiapan kuliah. Aku jadi ingat persiapan UN saat SMP. Tapi sepertinya persiapan UN untuk SMA jauh lebih mengerikan dibanding saat SMP. Apalagi kami akan mempersiapkan diri untuk kuliah. Kabar baiknya, sepertinya Abah sudah memberi lampu hijau untuk kuliah ke ITS Surabaya *menangis haru*
Cerita kali ini ditutup sampai disini. Aku tidak tahu harus menulis apalagi. Dan selamat ulang tahun untuk my darling Sasya Haewon X-5. Aku telat mengucapkannya. Tak apalah. Rasanya aku tidak mau mempercayai kau sudah berumur 20 tahun. Tapi… well. I love wild and naughty Sasya *slapped*
Well, halo. Murid NEWT disini.
Label: school life