Ya ampun. Aku kangen mengetik di MS 2007. Efek laptop harus ‘dirumahsakitkan’, beginilah.
Sebenarnya, postingan ini sangat-terlalu-telat. Loh, mending telat daripada tidak sama sekali kan? Postingan ini akan dibagi menjadi dua karena panjangnya tulisan ini (seperti tulisan saat perlombaan CC MPR provinsi) dan banyaknya gambar yang dimasukkan.
Astaga. Aku belum terbiasa dengan keyboardnya.
Tanggal 22-23 Juli minggu lalu, kami─beberapa anggota English Club dan non-anggota─mengikuti English Debating Club yang diadakan oleh Primagama English. Sekalian promosi kali ya. Persiapan kami memakan waktu sekitar dua minggu, atau kurang dari itu. Awalnya yang akan ikut adalah aku, Ibnu, Fachri, Ajeng, dan Rohim, lalu berniat mencari anggota tambahan. Tapi sayang, Rohim dan Fachri mengundurkan diri. Don’t ask why. But we had fun during our practice ![]()
Persiapan yang sebenarnya mungkin hanya memakan waktu sekitar seminggu. Sedangkan ‘main-mainnya’ selama seminggu pertama sekolah. Selama anak-anak baru menerima MOS (MUAHAHAHAHA #abaikan) kami yang siap diterjunkan (eh buset bahasa gw) sudah dilatih dengan motion yang dipersiapkan sendiri. Hmm. Iya ya? Oh iya. Tim yang mulai awal memang terbentuk adalah aku, Diy dan Ajeng. Uh yes. Trio macan(?).
Tim-tim yang lain menyusul kemudian. Yang agak kasihan adalah tim terbaru (Rara, Mely dan Kefin) yang terbentuk terakhir. Mereka ikut masuk bergabung kami setelah kami tahu ternyata SMAN 1 Longikis menurunkan 4 tim. Tidak mau kalah, kami pun menurunkan 4 tim pula. Nah, mereka memiliki kesempatan berlatih paling sedikit. Mungkin hanya sekitar dua hari. But Kefin was good enough. He has that-unbelievable-knowledge. Aku yang lebih tua merasa terkalahkan. EH?!
Di awal aku bilang, kami bersenang-senang selama latihan. Yup, sangat bersenang-senang. Entah mengapa kami dengan anak-anak baru itu serasa seperti sudah berteman lama. Karena jarak diantara kami tidak terlalu terasa #eaaa. Yah, awalnya sih anak-anak baru itu pada malu-malu ngomong. Tapi akhirnya sifat aslinya keluar. Apalagi dengan kakak kelasnya yang sering mengintimidasi agar ikut tertular ketidakwarasannya. Ditambah dengan guru-guru pembinanya yang juga tidak waras, maka kloplah semua *dicekek Pak Erwin dan Mr. Furai*

saat latihan.....
Tanggal 22 Juli, akhirnya lomba pun dimulai. Lomba diadakan di Gedung Perempuan Berjaya (dulunya Gedung Sirana, dulunya lagi KATANYA gedung bioskop). Katanya sih jam 8 pagi, tapi Indonesia kan jamnya terbuat dari karet. Bahkan mereka yang dari Longikis pukul 9 lewat baru datang. Untunglah mereka tidak mendapat giliran pertama.
Tim dari sekolah kami yang pertama turun adalah anak kelas 10 (Tim A : Dhea, Zia dan Mardha). Sebelumnya kami sempat mengobrol dengan salah satu jurinya, Regina, juri dari Hungaria. Iyah, dia dari negeri dimana Naga Ekor Berduri Hungaria berasal! Sempat mengobrol sedikit-sedikit. Entah Bahasa Inggris siapa yang tidak beres, Regina atau aku. Tapi yang jelas pembicaraan kami sempat misscommunication.
Perlombaan pun dimulai. Tim pertama dari sekolah kami mengambil motion ke atas panggung. Yang akan beraksi diatas panggung perdebatan (ya ampun bahasaku... bahasaku...) hanya tiga orang. Tapi yang membantu mencari berbagai pernyataan dan fakta untuk melawan tim lawan ada 14 orang![]()

Lomba debat yang diadakan PE ini jauh lebih mudah dibandingkan lomba debat tingkat provinsi yang aku ikuti tahun 2009 lalu. Di debat PE, motion sudah diberikan saat technical meeting. Jadi kami bisa mencari bahan. Saat aku di provinsi, kami baru tahu motion yang akan diperdebatkan 10 menit sebelum perlombaan dimulai. Selain itu, kami tidak boleh membuka internet, meminta bantuan dari pembimbing atau membaca koran. Jadi saat di provinsi benar-benar murni hasil kerja keras otak sendiri.
Selain itu, lomba debat ini menggunakan Australian style. So, there was no POI (point of interruption). Padahal kami sempat berharap menggunakan Asian style. Karena di POI lah senjata kami.
Perlombaan bagi tim A berjalan cukup mulus. Dhea sempat ‘mengamuk’ selama memberikan statement. Sepertinya dia berapi-api sekali.

Dhea yang bersiap mengamuk #diinjak
Selain Priyo, aku juga bertemu Nelly. Anak satu ini bisa dibilang yang paling akrab diantara teman-teman English Camp dulu. Paling sering juga berhubungan via SMS. Selain Nelly, juga ada Pendi dari SMK 3 Tanah Grogot. Sejujurnya, aku sudah lupa nama Pendi. Seandainya Nelly tidak menyebutkannya, mungkin aku tidak akan menyebut nama Pendi sama sekali orz.
Karena perlombaan diadakan dihari Jumat, akhirnya jam 11 kami break dahulu untuk memberi kesempatan bagi mereka yang akan melaksanakan shalat Jumat. Sedangkan aku sendiri? Dengan Puput, kami menyambangi kantor JNE untuk mengambil paket album MAS-MAS GANTENG DAN ADEK-ADEK UNYUKU #dilindes #lepaskendali Sayangnya, Boyfriend sudah tidak mendapat poster. Aku bertanya dengan seller-nya, katanya dari Korea memang sudah habis. BOYFRIEND, I CAN’T ACCEPT THAT YOU’RE THIS FAMOUS
Tapi aku dapat poster X-5! RIDA GANTENG BANGET DEH YANG PALING 65R%^rf%^r^f DI POSTER BAHKAN SASYA AJA KALAH #lepaskendalilagi

SALAH SENDIRI SASYA MILIH SPOT DIUJUNG GITU YA HAMPIR GA KELIHATAN
#fangirljahat
Oke, selesai ng-fangirlingnya. Balik lagi.
Aku mendapat SMS dari Bu Ema kalau Tim A dan B lolos ke perempat final. Entah mengapa aku merasa.... ini mudah sekali. Maaf, jadi menyombong ![]()
Sekitar pukul 14.30 siang, aku kembali ke tempat perlombaan. Kenapa terlambat? Sengaja. Sebenarnya perlombaan dimulai pukul 14.00. Tapi aku baru bangun dan sibuk membuat pom-pom. Yes, pom-pom. Sekolah kami memang peserta paling heboh.
Sampai gedung, perlombaan sudah dimulai. Aku menonton sambil ngantuk-ngantukan. Dan tahu apa? Ternyata babak perempat final diadakan sore itu juga. Jadilah aku berlomba dengan sambil mata yang berharap untuk tertutup. Parahnya lagi, aku kesana tanpa sepatu formal. Aku memakai sepatu santaiku, bahkan tanpa kaos kaki. Ancur abis deh penampilan.

Aku menggunakan jaket coklat dimeja sebelah kanan dengan badan menunduk dan itu pom-pom yang aku dan Puput buat.
Lucunya, guru pembina dari SMA 1 Longikis protes tentang hasil perlombaan. Dengar-dengar dari suara burung yang berkicau, beliau memprotes hasil lomba. Seharusnya kami tidak bisa menang. Alasannya adalah bahwa kami kurang pede dan entahlah-apa-lagi itu urusan mereka. Kami mencoba menguping, tapi tidak berhasil karena suara mereka kecil sekali. Tapi yang jelas, keputusan lomba ternyata tidak bisa diganggu gugat. Dan kami tetap lolos ke semifinal.....
![]()
Label: school life