Yukina Hawmie, 18, Indonesia
[#72] Once You Force Me, I’ll Againts Happily
Senin, 14 November 2011 @ 10:26 PM

Oh my my. Sudah hampir satu bulan kita tidak bersua, wahai tempat sampahku didunia maya. Maafkan aku karena sudah begitu lama meninggalkanmu. Sejujurnya aku punya beberapa draft didalam otakku. Tapi aku tidak sempat merealisasikannya karena draft itu tertumpuk dengan draft lain. Dan pada akhirnya, draft yang akan kubuang ketempatmu terlupakan. Bahkan hilang. Lenyap.

Mari katakan, akhir-akhir ini aku semakin sibuk dengan pikiranku sendiri. Bahkan tanpa melakukan apapun, aku sudah menghabiskan banyak waktuku tanpa melakukan hal yang berguna. Yeah, memang sangat membuang-buang waktu. Tapi itulah yang terjadi.

Well, aku tidak mengira aku akan menemui guru semacam guru Bahasa Indonesiaku sewaktu SMP. Bahkan kali ini semakin parah. Ketika aku SMP, aku hanya akan melawan tanpa mengatakan apapun. Tapi sifatku kan berubah seiring berjalannya waktu. Dan yang bisa aku ingat, aku menjawab semua perkataan guruku tercinta hingga ia terdiam. Kata salah satu temanku :

“Yuni baru diam pas ibunya selesai ngomel. Selama Ibu belum diam, dia ga bakal berhenti ngejawab.”

How awesome. I’m proud of myself.

Katakan, kawan. Guruku yang tercinta ini adalah hiburan bagiku yang sudah mencapai bangku terakhir di SMA. Tentu saja aku akan menerima perlakuannya dengan senang hati. Sedikit aku tahu, kadang akulah yang berada dipihak yang salah. Tapi, melawan guru itu bukannya menyenangkan? Hanya didepan guru tersebut reputasiku tidak baik. Hei, aku tidak akan membuat masalah jika saja dia tidak berbicara dengan cara yang menyebalkan. Atau memberikan tugas-tugas yang membuat kami harus menguras kantong atau mengemis pada orangtua.

Aku banyak melihat beberapa yang mengomentari guru tersebut mengajar. Tugas A, B, C dan D tanpa memberikan pengarahan berupa praktek. Cukup membuka mulut dan kamilah yang bekerja. Sungguh menyenangkan.

Aku jadi ingin membuka kenangan selama kelas 10. Beliau pernah menjadi guru Bahasa Indonesia kami. Dan tentu saja, tahu apa yang kulakukan? Aku terus menyela setiap penjelasannya. Oh, yeah. Aku sudah menjadi ‘musuh’ tetap guru tersebut semenjak aku berada ditahun pertama di SMA. Betapa indahnya.

Satu kalimat andalan guru tersebut yang membuatku ingin membekap mulutnya : “Memangnya pelajaran Ibu tidak penting?” Sini, Ma’am. Setahuku, mata pelajaranmu bahkan tidak berpengaruh pada ujian nasionalku tahun depan. Sekalipun aku akan mendapatkan nilai merah dimata pelajaranmu, apakah aku peduli? Tidak, Ma’am. Bahkan dimataku anda tidak kompatibel untuk menjadi guru mapel yang anda pegang sekarang. Trims.

Ngomong-ngomong, besok kelasku akan ulangan harian mulai pagi hingga pulang sekolah. Yeah, semua mata pelajaran besok akan ulangan harian. And guess what? Aku bahkan belum menyentuh buku mata pelajaran Biologi, Fisika dan Kn. Walau berada ditahun terakhir, aku merasa aku semakin tidak serius melaksanakan kewajibanku sebagai pelajar. Ugh, aku ingin melepaskan label pelajar dilembaga pendidikan formal secepatnya. Aku tidak percaya aku bahkan berniat menambah pendidikan formalku hingga 4-5 tahun kedepan.

"You force, I against. Cause I got tons of motherfucking things that need to be done"

@MuhdHafeeez

Label: ,

1 comments: leave a comment